Indonesia Masih Kekurangan Pendonor Mata

KETERSEDIAAN donor mata di Indonesia, menurut Ketua Bank Mata Indonesia, Tjahjono Gondhowiardjo, masih jauh dari cukup. Hal ini disebabkan belum adanya kesadaran dan stigma negatif dari kegiatan mendonorkan mata.

“Kebutuhan sangat tinggi karena kebutaan kornea hampir setiap hari terjadi,” ujarnya dalam konferensi pers dalam acara Pre Meeting Cornea Workshop, di Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya, Jakarta Barat.

Meskipun saat ini Bank Mata Indonesia telah menerima 25 ribu pendaftaran orang yang ingin menjadi pendonor mata, namun ini tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan kornea mata dalam waktu dekat karena pendaftar masih berusia produktif.

“Yang sudah mendaftar memang ada banyak, tapi belum tentu mereka meninggal dalam waktu dekat. Sementara kebutuhan akan kornea mata sangat tinggi, dan jumlah donor yang dibutuhkan tidak bisa dipastikan karena ada prioritas,” jelasnya.

Menurut keterangannya, di Indonesia tidak pernah ada lebih dari 20 pendonor dalam setahun. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat bisa melakukan operasi sampai 40 ribu per tahun karena ketersediaan donor yang cukup. Dengan demikian transplantasi kornea di Indonesia masih banyak bergantung pada pendonor dari luar negeri.

Untuk mencoba mengatasi masalah ini, Bank Mata Indonesia telah mencoba berbagai pendekatan, mulai dengan pemerintah hingga sejumlah organisasi keagamaan. Namun, belum ada ketegasan dan tanggapan baik seperti yang diharapkan.

“Di luar negeri kini persepsinya telah berubah. Banyak negara menggunakan undang-undang, seperti mengatur bahwa setiap warga yang meninggal akan langsung menjadi pendonor, kecuali kalau ada penolakan. Pendonor mata itu bukan hanya mendonorkan mata, tetapi memberi kehidupan yang lebih baik untuk orang lain,” tegasnya.

Recent Posts

Leave a Comment

mSoaM8Q
Skip to toolbar