Donor Mata Sebagai Tindakan Mulia

Donor mata adalah salah satu bentuk donor organ yang paling banyak membawa manfaat. Dengan mendonorkan kornea, seseorang dapat membantu orang lain yang buta agar bisa kembali melihat dunia. Dalam ajaran agama Buddha, tindakan ini sejalan dengan nilai luhur dāna (kemurahan hati) dan karuṇā (belas kasih).

Seperti yang disampaikan Dalai Lama, “Untuk mendonorkan organ Anda adalah perbuatan mulia. Sebagai Buddhis, tubuh kita bersifat sementara. Memberi organ adalah tindakan belas kasih” (LifeCenter Northwest).

Kisah Inspiratif dari Ajaran Buddha

Dalam literatur Buddhis, terdapat kisah Raja Sivi, kehidupan lampau Sang Buddha, yang rela memberikan matanya kepada seorang brahmana buta. Kisah ini menjadi teladan bahwa memberikan bagian tubuh demi menolong orang lain adalah bentuk tertinggi dari kebaikan (Medical Anthropology Theory).

Bahkan dalam banyak kisah Jātaka, Sang Buddha digambarkan rela berkorban, bahkan tubuhnya sendiri, demi menyelamatkan makhluk lain.

Pandangan Modern Komunitas Buddhis

Berbagai organisasi Buddhis di dunia justru mendukung donor organ, termasuk donor mata. Buddhist Council of New York menyebut donor organ sebagai tindakan belas kasih yang tidak bertentangan dengan ajaran Buddha (LifeCenter Northwest).

Di Inggris, Dr. Desmond Biddulph, Ketua Buddhist Society, menegaskan:

“Memberi adalah kebajikan terbesar. Buddha dalam kehidupan lampau bahkan pernah memberi matanya. Apa ruginya jika saya memberikan organ yang tidak berguna sesudah mati?”
(NHS Organ Donation)

Praktik di Negara Buddhis

Di Sri Lanka, berdiri Sri Lanka Eye Donation Society, salah satu organisasi donor mata terbesar di dunia. Organisasi ini aktif mendistribusikan ribuan kornea ke berbagai negara, dan masyarakat melihat donor mata sebagai praktik dāna pāramī (kesempurnaan dalam memberi) yang luhur (Wikipedia).

Pertimbangan Spiritual

Meski banyak dukungan, sebagian tradisi Buddhis, terutama di Tibet, mengingatkan bahwa tubuh sebaiknya tidak segera diganggu setelah kematian karena diyakini kesadaran bisa masih berada dalam tubuh hingga beberapa hari. Namun, pandangan ini tidak serta-merta melarang donor organ, melainkan lebih kepada waktu dan cara pelaksanaannya (Tricycle).

Kesimpulan

Secara umum, donor mata dipandang positif dalam agama Buddha karena sejalan dengan semangat kasih sayang, pengorbanan, dan ketulusan untuk menolong sesama. Kisah-kisah Jātaka, pernyataan Dalai Lama, hingga praktik nyata di Sri Lanka menunjukkan bahwa donor mata adalah salah satu cara paling nyata untuk menghidupi ajaran Sang Buddha:

Menolong sesama tanpa pamrih, demi kebahagiaan semua makhluk.

Budha